Minggu, 25 September 2016

Coklat Pagi dan Kopi Malam



Setelah pagi yang menyakitkan, datang lagi malam dengan segala kekuatannya menciptakan khayalan baru dibalik setiap kenyataan. Sendu. Malam ini kopi lagi. Entah sejak kapan aku mulai menggemari ini. Mencari cara agar malam menjadi semakin panjang. Detik ke detik. Jam ke jam. Setiap orang dimalam hari menawarkan kejujurannnya masing-masing. Tawanya lepas, Tangisnya haru, dan diamnya penuh arti. Semua sangat nyata, begitu apa adanya dengan kesadaran yang tidak siapapun berpura-pura menyembunyikannya. Terlampau larut. Larut malam. Larut pagi. Semakin sepi. Lalu ramai. dan sangkakala pagi berbunyi.

Tidak. Pagi lagi.

Kesadaran ini, kesadaran kita, bahkan kata "sadar" itu sendiri akhirnya memudar. Tiba-tiba saja semua ingin diam dan kembali ke dimensi kelelahannya karena terlalu larut mendekap waktu demi menghidupi ruang gelap bernama malam.


Lagi lagi tersakiti oleh pagi. Inikah bayaran dari perlawanan kodrat yang beberapa jam terus ku abaikan. Dan penyakit ini seperti memaksaku merasakan mualnya ibu mengandung ketika ia membuka matanya didini hari, saat semua orang sibuk menjalani dirinya. Tapi aku sangatlah sendirian, rasa sakit ini tidak akan dilindungi oleh siapapun kecuali aku. Selangkah demi selangkah menghadapi cahaya baru untuk kisah yang berlanjut. Tapi terang pagi ini seperti menggelora mengganggu kelopak mata yang terus terdorong agar seberat mungkin dapat terpejam. Mata ini mengalirkan rasa sakit terus sampai ke kepalaku.

Hari ini begitu jauh aku berjalan lagi, kendati aku sadar bahwa perubahan itu adalah hadiah manis untuk selalu kunikmati.

Sungguhkah aku telah berada diruang kedewasaan dan mampu merubah apapun yang ingin ku rubah. memandang apapun yang ingin kupandang. Mendengar apapun yang ingin ku dengar. Mencintai apapun yang ingin ku cinta. Juga membenci apapun yang ingin ku benci. Entah. Semua semakin berat dan aku hanya ingin meringankan segalanya.

Coklat dulu yang mengantarkanku terpejam dan kopi dulu yang kucari ketika lelah. Dua hal itu merupakan hitam dan putih yang benar-benar saling menembus batasannya.

Kini hanya ada coklat dipagi hari yang mendengarkan lelahnya tadi malam dan kopi dimalam hari yang mengantarkanku menuju pagi baru. Lagi. Dan lagi. Selalu lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar