
- - -
Padahal menyayanginya tidak pernah mengikutkan rasa sakit, sehingga aku memang tidak harus sembuh saat semua hilang. Aku ingin berbahagia sekaligus merindukannya setiap waktu. Membiarkan ini semua menjadi anugrah yang kuratapi kesenangannya. Aku hanya manusia yang mulai tidak mampu dan lemah hati kini. Lalu aku harus apa aku pun tidak ingin tau.
Mungkin menggila, benar semua benda yang ditinggalkannya seperti mengucap salam, memanggilku dan bercerita dalam diam. Aku selalu mendengarkannya dengan haru. seperti pernah ada suara yang sangat aku cintai bersatu dalam hal-hal fana yang masih harus aku temui setiap waktu.
Sesaat orang-orang terus mencoba membangunkanku sekali lagi dari sunyi. Kali ini jiwa dan ragaku sungguh tidak lagi diatas kasur yang lembut, tidak juga di atas sofa yang nyaman. Hanya aku diatas ketidaksadaran dan keinginan untuk tidak berlama-lama lagi menahan duka.
- - -
Entah memang.
Yang paling aku takutkan dalam hidup saat ini adalah...
Mendapat banyak waktu sampai terus-menerus merasakan kehilangan.
Dan aku hanya serpihan yang lenyap berkali-kali.
Hidup tetaplah hidup.
Tapi mengapa, ditinggalkan tidak tetap tinggal.
Aku ingin menjadi egois.
Aku tidak ingin sedih seperti ini.
Tapi tunggu pula...
Demi Maha Cinta dan Engkau.
Juga demi semua hal yang kita semua terus sayangi.
Tanpa kenal waktu, tanpa tau ruang...
Aku akan hidup sampai nanti,
menjadi dirimu di bumi.
Lebih kuat dari aku yang sendiri.
Sampai kala sekat itu kehilangan hitungan waktunya.
Suatu hari Nanti,
Mari kita buka gerbang kebersamaan yang abadi.
Membangun istana kebahagiaan lebih dari keterbatasan kita.
Kembali menjadi angka yang aku sukai. 3.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar